Politik Luar Negeri RI Era SBY: TRUST & It’s about Image

Hari ini, Jumat (9 Mei 2008), gue ikutan kuliah tamu mata kuliah Politik Luar Negeri Indonesia (PLNRI). Pembicara yang diundang untuk menyampaikan kuliah adalah Bpk. Bantarto Bandoro (Pak Banto), seorang dosen dan peneliti di CSIS. Tema kuliah tamu kali ini adalah ‘Politik Luar Negeri Indonesia Pada Masa Pemerintahan Presiden SBY’. Di sini gue akan mencoba membuat ringkasan dari perkuliahan tadi.

Pak  Banto memulai perkuliahan dengan mereview soal konsep Politik Luar Negeri (PLN) dan kemudian berbicara tentang PLNRI secara general. Beliau berkata bahwa PLNRI bergantung pada 3 hal, yaitu:

  • Postur Indonesia
  • Posisi Indonesia, dan
  • Krisis di Indonesia.

Sehubungan dengan poin ke-3, terdapat kecenderungan PLNRI pada waktu krisis, yaitu: fokus terhadap politik luar negeri berkurang, karena dalam uaya pemulihan situasi domestik. Selama masa krisis ini pun, kepemimpinan Indonesia di Asia Tenggara tidak terlihat. Karena itulah peran ini kemudian diambil alih oleh Singapura atau Thailand.

Indonesia pun mencoba menarik hati dunia internasional dengan menciptakan Pemilu yang damai di tahun 2004. Hal itu pun berhasil dilakukan, dan sedang berjalan hingga kini.

PLNRI Masa SBY

SBY berhasil mengubah citra Indonesia dan menarik investasi asing dengan menjalin berbagai kerjasama dengan banyak negara, antara lain dengan Jepang. Perubahan-perubahan global pun dijadikannya sebagai opportunities.

Jika PLNRI yang diterjemahkan Bung Hatta adalah ‘bagaikan mendayung di antara 2 karang’, maka Pak Banto mengatakan bahwa PLNRI di masa SBY adalah ‘mengarungi lautan bergelombang’, bahkan ‘menjembatani 2 karang’. Hal tersebut dapat dilihat dengan berbagai insiatif Indonesia untuk menjembatani pihak-pihak yang sedang bermasalah.

Kemudian, terdapat aktivisme baru dalam PLNRI masa SBY. Ini dilihat pada: komitmen Indonesia dalam reformasi DK PBB, atau  gagasan SBY untuk mengirim pasukan perdamaian di Irak yang terdiri dari negara-negara Muslim (gagasan ini belum terlaksana hingga kini).

Selain itu, terdapat ciri-ciri khas PLNRI di masa SBY, yaitu:

  • terbentuknya kemitraan-kemitraan strategis dengan negara-negara lain (Jepang, China, India, dll).
  • terdapat kemampuan beradaptasi Indonesia pada perubahan-perubahan domestik dan perubahan-perubahan di luar negeri.
  • ‘prakmatis kreatif’ dan ‘opportunist’, artinya: Indonesia mencoba menjalin hubungan dengan siapa saja yang bisa membantu dan menguntungkan bagi Indonesia.
  • TRUST, yaitu: membangun kepercayaan terhadap dunia Internasional. TRUST di sini adalah

T : uniTy

R : haRmony

U : secUrity

S : leaderShip

T : prosperiTy

5 Hal dalam konsep TRUST ini kemudian menjadi sasaran PLNRI di tahun 2008 dan selanjutnya.

Pak Banto terlihat menilai sangat positif kinerja dari PLNRI SBY. Namun kemudian, ia pun menyebutkan sisi kekurangan dari PLNRI SBY. Menurut beliau, PLNRI SBY kurang bisa menyelesaikan masalah-masalah di dalam negeri. Di sini kita dapat melihatnya dari bertambah banyaknya jumlah orang miskin di Indonesia. Padahal, jika secara konseptual PLN disebut sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan domestik, seharusnya PLNRI bisa menjadi media penyelesaian masalah di dalam negeri. Oleh karena itu, banyak pihak yang menganggap PLNRI SBY dengan sebutan: It’s about Image. Karena SBY berlaku hanya untuk memulihkan citra baik Indonesia di luar negeri, dan kurang memperhatikan ke dalam negeri.

Proyeksi PLNRI pasca 2009

Tahun 2009 merupakan tahun yang penting bagi SBY. Di tahun itu akan diketahui apakah ia akan terpilih lagi menjadi presiden atau tidak. Yang pasti, jangkar yang dimiliki SBY haruslah lebih diperkuat, terutama di level domestik.

PLNRI pasca 2008 pun turut menjadi aspek penting bagi SBY. Di sini kemudian Pak Banto menyebutkan, bahwa PLNRI pun memiliki 2 pilihan, either becomes the follower of the global changes, or becomes the leader of the changes.

***

Ya begitulah kuliah tamu siang tadi. Selebihnya terdapat sesi diskusi dan tanya jawab, dimana mahasiswa Unpar bergantian memberi pendapat juga bertanya kepada Pak Banto. Prof. Banyu pun turut hadir dan berbicara sedikit mengenai topik perkuliahan tamu itu.

About these ads

About this entry