Bedah Buku ‘Indonesia and the Muslim Word’-nya A. A. Banyu Perwita

Indonesia and the Muslim World-Prof. A. A. Banyu Perwita

Sore ini, divisi Analisis Literatur dan Film (ALF) KSMPMI mengadakan bedah buku ‘Indonesia and the Muslim Word’-nya Prof. Anak Agung Banyu Perwita. Beliau adalah dosen kebanggaan di HI Unpar.

KSMPMI sendiri adalah Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Hubungan Internasional di Unpar, dimana saya menjadi anggota aktif selama tiga tahun ini.

Diskusi yang diadakan di ruangan Audio Visual Fisip Unpar ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa HI Unpar dan sejumlah dosen. Pertama-tama Mas Banyu memberi kata pembuka di awal diskusi ini. Lalu acara dilanjutkan dengan pemaparan isi bukuoleh anak-anak dari ALF. Ada 8 bab di dalam buku ini, jadi pemaparannya pun memakan waktu yang cukup lama.

Setelah pemaparan bagian-bagian di buku ini, sesi tanya-jawab pun dibuka. Baik mahasiswa dan dosen terlihat sangat antusias dengan sesi ini. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan misalnya “Bagaimana Islam sebagai sebuah desicion maker di Indonesia?”, “Bagaimanakah politik luar negeri Indonesia dengan Islam pada pemerintahan SBY?”, dll.

Disela-sela sesi diskusi tanya-jawab, Mas Banyu menyelipkan berbagai cerita pengalaman dalam menulis buku yang notabene adalah thesis Phd.-nya beliau. Termasuk cerita favorit saya tentang bagaimana ia ‘ditolak’ oleh Amien Rais pada waktu pengumpulan data tidak tahu apakah benar itu Pak Amien yang menolak atau staff-nya yang resek. “Seorang mahasiswa S3 di Australia, dosen di Universitas Katolik Parahyangan, dan bukan seorang Muslim mau mewawancara Pak Amien yang sedang naik daun? Jangan-jangan antek-nya Amerika”. Ya begitulah ceritanya.

Saya sendiri menganggap buku ini sebagai suatu hasil karya yang luar biasa. Bagaimana tidak, seorang ‘dosen muda yang gaul abes’ menulis karya tulis yang langka. Karena katanya si buku tentang politik luar negeri Indonesia itu sangatlah jarang. Tambah menarik karena yang menulis bukanlah seorang Muslim dan juga mengajar di sebuah universitas Katolik.

Di akhir diskusi, Mas Banyu kembali ‘menantang’ mahasiswa untuk terus menulis dan terus kritis terhadap dosen-dosen yang mengajar. Semoga KSMPMI bisa tetap konsisten dalam kegiatan diskusi-diskusi masalah internasional dan membedah buku-buku atau film-film yang memang layak untuk didiskusikan.


About this entry