Perjodohan Antar Impal

Pada masyarakat Karo, jika berbicara tentang pasangan hidup rasanya tidak akan jauh-jauh dari yang namanya perjodohan. Baik itu perjodohan antar impal maupun dengan yang tidak berhubungan sama sekali. Hal ini bukanlah hal yang aneh, karena dengan berbagai macam tradisi di masyarakat Karo, terkadang pemuda Karo pun dituntut untuk memiliki pasangan hidup yang berasal dari suku sendiri.

Masyarakat Karo tentu tidak asing lagi dengan yang namanya perjodohan antar impal. Seorang pemuda Karo pertama-tama akan dipasangkan dengan anak perempuan mamanya, sedangkan pemudi dengan anak laki-laki bibinya.


Sejarah dan Perkembangan Perjodohan Antar Impal

Awal sejarah dari perjodohan antar impal sendiri adalah pembagian harta warisan. Di masyarakat Karo tradisional dahulu, seoranng anak dikawinkan dengan impalnya supaya harta keluarganya tidak jatuh ke tangan orang lain. Kasarnya, dari pada harta keluarga nanti akan diwariskan kepada orang yang tidak dikenal, lebih baik jika diturunkan kepada saudara sendiri yang sudah jelas siapa orangnya.

Tradisi perjodohan antar impal ini masih bertahan hingga sekarang. Namun sesuai dengan perkembangan jaman, tujuan perjodohan antar impal itu sudah tidak lagi seputar persoalan harta warisan. Saat ini, tujuan perjodohan antar impal itu sering kali demi menjaga kekerabatan di dalam sebuah keluarga besar. Karena tidak jarang ada kekhawatiran akan longgarnya hubungan kekerabatan di dalam keluarga besar jika anak di dalam keluarga tersebut menikah dengan orang yang tidak dekat dengan keluarganya. Khawatir akan adanya perubahan hubungan kekerabatan di dalam keluarga.

Yang menjadi masalah adalah apakah perjodohan antar impal ini masih sesuai dengan kehidupan saat ini?

Secara genetika, perkawinan antar impal, yang notabene adalah antar sepupu, bukanlah suatu pilihan yang baik. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa perkawinan tersebut akan membuahkan bibit keturunan yang kurang baik. Namun, hal tersebut hanyalah sebuah kemungkinan, yang berarti tidak pasti akan selalu terjadi.

Selain itu, sebagai pemuda Karo, posisi kita di dalam hal ini sedikit tidak jelas. Apakah kita menerima perjodohan antar impal ini atau menolaknya?

Di satu sisi, kita pemuda Karo berkewajiban untuk melestarikan kebudayaan Karo yang satu ini. Namun di sisi lain, sesuai perkembangan jaman, perjodohan sudah tidaklah sesuai lagi dengan kehidupan masyarakat jaman sekarang.

Mempertahankan Anggota Keluarga Satu Suku

Pemuda saat ini memiliki kebebasan masing-masing untuk memilih pasangan hidupnya. Dengan kemajuan teknologi saat ini, seseorang dapat menjalin hubungan seluas-luasnya, termasuk dalam urusan mencari pasangan hidup.

Pemuda Karo yang menjadi bagian dari perkembangan jaman dapat mencari pasangan hidupnya sampai pelosok bumi manapun. Hal ini menyebabkan orang Karo tidak lagi menikah dengan sesama orang Karo, tetapi bisa dari suku lain atau bangsa dan negara lain.

Namun di masyarakat Karo sendiri orangtua dan keluarga masih memegang peranan yang besar dalam penentuan pasangan hidup seseorang. Karena dalam masyarakat Karo itu sendiri, perkawinan terjadi bukan hanya antara kedua individu yang akan menikah, tetapi juga perkawinan antar dua keuarga. Tidak jarang orangtua dan keluarga menolak pilihan calon pasangan hidup anak mereka jika calonnya tersebut bukan orang Karo.

Hal tersebut sesuai dengan yang telah disebutkan sebelumnya mengenai adanya kekhwatiran akan lunturnya kekerabatan dalam suatu keluarga jika seorang anak tidak menikah dengan seseorang yang tidak dekat dengan keluarganya. Terlebih lagi jika kedekatan antar keluarga yang telah bersatu tidak dapat terjalin.Terdapat kekhawatiran jika pasangan hidup anakna bukanlah orang Karo tidak dapat menerima tradisi-tradisi di dalam keluarga Karo.

Karena itulah, meskipun tidak lagi sekuat dahulu, para orangtua Karo masih memiliki keinginan agar anaknya menikah dengan sesama orang Karo. Terutama dengan impalnya.

Perjodohan antar impal, meskipun tidak sesuai lagi dengan kehidupan pemuda saat ini, merupakan suatu keinginan kuat dari para orangtua Karo dalam rangka mempertahankan tradisi masyarakat Karo. Karena tidak satu pun dari kita yang ingin budaya Karo menghilang seturut perkembangan jaman.

Kalau saya sendiri,saya tidak lagi menganggap budaya perkawinan antar impal ini sebagai suatu hal yang penting dan harus dilaksanakan. Masih banyak hal-hal lain yang dapat saya lakukan untuk menjaga budaya suku saya ini, misalnya dengan tetap mencintai tari-tarian, lagu-lagu Karo, dan menjalin pergaulan dengan sesama orang Karo.

Yang penting adalah bagaimana kita sebagai pemuda Karo menempatkan diri di dalam masalah ini. Mengikuti kata hati dalam mencari pasangan hidup tetapi tidak juga meninggalkan kebudayaan Karo.***


About this entry