Politik Kampus

Ide tulisan ini sebenarnya uda lama gue pikirkan, tp baru tadi malam gue bergejolak buat nulisnya, berkat omongan dengan seorang teman di perjalanan pulang ke kosan .

Hmm, politik kampus yang gue maksud di sini bukan cuma perebutan kekuasaan di kampus lho. Tapi juga termasuk pola-pola berteman, sikap-sikap opportunitist, bahkan masalah penyebaran gosip-gosip di kampus.

Oiye, apa yang gue tulis ini ga bermaksud menunjuk pada oknum-oknum tertentu ya. Terus, yaah emang terjadi di kampus gue.

***

Politik Kampus: Kemana mata memandang, di situlah sasaran!

Ini dia ni yang kemarin gue omongin sama temen gue itu. Alkisah ada sebuah genk (baca: sekelompok anak-anak yang berteman sangat dekat) di kampus gue. Sumpah, gue juga baru tau keberadaan mereka ga lama ini kok. Dan ga nyangka orang-orang yang termasuk di dalamnya itu membentuk sebuah genk, karena dari awal gue mikir mereka itu emang berteman dekat.

Dan gossip pun menyebar seiring dengan keberadaan mereka. Ada yang bilang: “Kalo mau ikutan genk mereka  ada recruitment-nya lho, harus traktir anak-anak genk itu dimana gitu…”, ada lagi yang bilang: “Ih, uda kuliah kok nge-genk, dikasi namanya lg!”, dan bla-bla-bla lainnya.

Bahkan di kampus gue itu tersebutlah keberadaan beberapa genk, yang bahkan anggotanya bisa di-‘transfer’. Transfer disini maksudnya kayak tuker-tukeran anggota genk gitu. Gilaa, gaya banget yak!

Dasar gossip nya anak FISIP (Fakultas Ilmu Gossip yang digosok makin sip)!

Kebetulan temen gue itu mendapat kepercayaan dari genk itu untuk diceritakan kenyataan yang sebenarnya. TERNYAATAAAA…..

Nama genk yang disebut-sebut selama ini adalah hasil karya orang-orang di sekitar (ya anak-anak kampus). Nama itu dikasi karena orang-orang di sekitar menganggap mereka berperilaku sesuai dengan nama genk itu. *maaf banget, nama genk itu ga bisa gue sebutin di sini*

Ga ada tuh tuh yang namanya ‘transfer genk’. Kan wajar, kalo kita ga cocok dengan teman yang lama kita bebas mencari teman baru yang memang sesuai dengan kita. Dan soal recruitment genk yang di atas itu, TERNYATAAA itu merupakan bikin-bikinan orang-orang sekitar yang ga senang dengan keberadaan genk itu.

Dan gue baru tau juga, genk yang gue maksud dari awal ini, punya satu spot di deket taman kampus gue. (taman FISIP itu tempat ngumpulnya anak-anak FISIP). Curhat punya curhat, TERNYATAAA spot itu justru ‘ungsian’-nya mereka. Ya, mereka mengungsi ke situ karena adanya tatapan-tatapan menyakitkan yang memandang mereka ketika  mereka ada di taman. Yaah, gue agak miris juga si pas dengerin cerita ini.

Cukup tentang genk itu. Masih soal tatapan-tatapan maut ni.

Ada yang bilang: “Hati-hati kalo ngeliat orang yang kita taksir di kampus (khususnya di jembatan & taman FISIP.” Sangat gampang tertebak, siapa orang yang lagi kita taksir, dan bukannya tidak mungkin gossip pun tersebar dalam waktu satu malam.

Ini terbukti kok, beberapa teman saya sudah terkena dampaknya. Yaah kemana mata memandang, berarti di situlah sasarannya.

Politik Kampus: Membangun sebuah Rezim

Point ini sebenarnya berawal dari saat dimana pada mahasiswa baru masuk kampus. Keliatan de siapa yang bakal jadi calon-calon anak eksis. Biasanya sih, yang nongol orangnya itu-itu doank. Di kampus dan kepanitian mana pun pasti ada dan sangat ‘terlihat’. Ya mereka-mereka itulah yang kemudian disebut sebagai Rezim.

Dulu di angkatan gue juga ada oknum-oknum yang disebut sebagai rezim. Yaah, lagi-lagi itu adalah sebutan dari orang-orang sekitar. Dan mulailah penolakan-penolakan akan ke-eksisan mereka. Banyak yang bilang uda bosen kok yang maju mereka-mereka terus. Kalo mereka nya sih nyantai, cukup dengan bilang: “kalo emang gue mampu kenapa enggak?” *ini yang gue denger*

Dan akhirnya, cerita ini pun menghilang seperti ditiup angin. Sekarang keadaan di angkatan gue adem-ayem kok. Tapiii, masalah ini selalu muncul di setiap angkatan. Keberadaan kaum-kaum eksis dianggap sebagai sebuah rezim, yang bahkan sampai dikudeta dari sebuah kepanitiaan lhoo. Nah lho, uda kayak politik di birokrat beneran kan??

Politik Kampus: HI-ers are the Opportunists

Apa ni maksudnya? Yaah, ga cuma anak-anak HI aja si, menurut gue semua anak kuliahan itu opportunist: mengambil semua kesempatan di depan mata, bergaul dengan orang-orang yang memang menguntungkan bagi diri sendiri, dan terkadang terkesan habis manis sepah dibuang.

Ada ni oknum-oknum tertentu yang kalo hari-hari biasa di kampus gak pernah negur. Eeeh, tiba-tiba aja menjelang ujian dengan akrab dan ramah datang mendekat. Ya apa lagi, kalo gak minjem catetan kuliah, ya ngajakin belajar bareng. Atau kadang mendekati pas mau tugas kelompok dengan pemikiran: dia ada mobil, dia rajin ngerjain tugasnya, dan bla-bla-bla lainnya, padahal sebelum-sebelumnya gak kenal atau bahkan ‘lupa ‘ namanya. Dan setelah semua itu selesai, just say goodbye and back to our own life. Hey, anda-anda yang merasa tersentil, cobalah buka mata, buka hati, dan tutup mulut kalian. Kepikiran ga si gimana perasaan objek opportunitist kalian itu???

Politik Kampus: Ada di kalangan dosen juga

Akibat adanya akselerasi gossip di lingkungan kampus. Dosen-dosen pun jadi terkena imbasnya. Tapi ini bukan hanya karena kebiasaan mahasiswa-mahasiswa yang suka ngomongin dosen lho. Kadang-kadang dosennya pun justru menciptakan gossip di kelasnya. Misalnya ‘cerita’ tentang kebiasaan dosen A bikin soal (dengan sedikit sindiran), cara ngajar dosen B yang kurang mendidik mahasiswa-lah, dan bla-bla-bla lainnya. Belum lagi kalo ada dosen-dosen yang tanpa disadari menyebarkan gosip di pertemuan non formal di luar kelas. Yaudahlah…

Hmm, buat point ini, gue ga terlalu berani banyak bicara. Takut euy! Gue masih mahasiswa soalnya. Salah-salah bisa jadi ‘alumnus-alumni ga lulus’.😉

***

Ya segitu aja dulu de, masih banyak yang lain sii. Tapi agak-agak ga etis kalo semuanya gue tuang di blog ini. Kalo mau gossip soal politik kampus, boleh lho menghubungi gue!

“Politics is the art of looking for trouble, finding it whether it exists or not, diagnosing it incorrectly, and applying the wrong remedy.” – Ernest Benn


About this entry