Wonderful Indonesian (Part 1)

Foto di atas gue ambil sewaktu gue datang ke Pekan Produk Budaya Indonesia atau nama kerennya The Season of Indonesian Cultural Heritage & Craft 2008 tanggal 8 Juni yang lalu. Gue cukup puas datang ke pameran itu, isinya bener-bener produk-produk buatan Indonesia, baik yang sangat berbau budaya Indonesia maupun yang sudah berakulturasi dengan budaya-budaya luar Indonesia. Ada produk-produk kerajinan tangan, keramik, perhiasan, barang-barang fashion, sampe-sampe ada karya-karya desain & fotografi, dan film buat dalam negeri yang bisa ditontong gratis. Banyak deh! Coba liat aja situsnya. Point yang mau gue ambil dari pameran itu adalah ajakan untuk menciptakan produk-produk Indonesia yang ‘berdaya saing tinggi’, sehingga kita bisa ‘meraih kembali kejayaan nusantara’.

Agak bosan ya kalo harus mengkritisi persoalan budaya batik, tempe, atau angklung yang sudah menjadi perdebatan karena ‘dicaplok’ sama negara lain. Calvin bahkan pernah menulis soal cerita Bawang Merah Bawang Putih yang ‘diakui’ sebagai milik Malaysia di blog-nya. Maka kali ini gue mau ngebahas soal musik dan musisi instrumentalis Indonesia yang sudah menciptakan produk-produk berdaya saing tinggi. Dalam tulisan ini gue akan menghadirkan Levi Gunardi, Viky Sianipar, dan band Krakatau. Tapi satu-satu ya.

***

Pertama-tama gue mau membahas idola gue dulu Levi Gunardi. Sebagian profile musiknya dia bisa dilihat di sini.

Levi Gunardi adalah pianis handal asal Indonesia yang berhasil Go International, dan tidak kalah dengan Ananda Sukarlan yang memang sudah diakui secara internasional menetap di Spanyol. Selain dikenal sebagai pianis klasik generasi MTV, Levi juga merupakan seorang pencipta lagu. Karyanya antara lain Happy Birthday (yang didedikasikan kepada gurunya yang juga pianis handal Indonesia: Iravati Soediarso), The Dancer (yang sudah diciptakannya sewaktu umurnya 15 tahun), dan Nocturne #1 (yang didedikasikan untuk istrinya). Memang sih, karya Levi yang dipublikasikan baru tiga itu. Tapi buat pianis amatiran kayak gue gini, tingkat permainan tiga lagu itu bisa dibilang menantang. Karena setelah mendengar lagu The Dancer saja, saya langsung tertantang untuk menguasainya juga. Hasilnya? Jangan ditanya, jelas jauh dibandingkan permainan penciptanya. But at least, gue bisa bikin 2 orang temen gue mengingat pujaan hatinya waktu gue mainin lagu ini.😛

Baru-baru ini, Levi mengadakan sebuah resital solo di Singapura. Coba lihat video ini. Lagu Fragmen pada video adalah ciptaan Jaya Suprana yang juga merupakan musisi asal Indonesia. Bisa dilihat bagaimana dedikasi Levi kepada musik Indonesia, mengadakan konser di luar Indonesia saja dia masih membawakan ‘lagu ajaib’ asal karya anak bangsa dengan level nyaris sempurna dari segi tehnik dan penghayatan.

Lagu The Dancer sendiri merupakan lagu favorit gue, karena punya kesan yang mendalam. Coba lihat video ini. Video itu merupakan rekaman dari Indonesian Art Festival yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia yang ada di Singapura. Pada video itu dapat dilihat bahwa lagu ini merupakan sebuah karya besar yang pantas menyertai kesenian tari Bali yang sudah sejak lama mendunia. Karya ini pun ditampilkan sejajar dengan tarian Saman dari Aceh pada festival itu.

Gue jadi ingat waktu SMA gue wawancara Levi untuk kebutuhan tugas sekolah. Dari situ saya tahu bahwa Levi memang menaruh respect kepada musik tradisional Indonesia, seperti gamelan Jawa/Bali, dan bahkan dari beberapa berita tentang dirinya yang gue baca di koran-koran, Levi mau membawa musik tradisional Indonesia ke level internasional. Dan kini, kita sama-sama sudah tahu, bahwa seorang Levi Gunardi telah berhasil melakukannya sedikit demi sedikit.

Sayang sekali, pada blog ini, gue hanya bisa nampilin 1 karya Levi Gunardi dan 1 penampilannya. Berkaitan dengan karyanya, gue memilih alasan ‘supaya gak dibajak’ kenapa lagu-lagunya yang lain gak gue masukin.

Satu hal yang membedakan Levi Gunardi dengan Ananda Sukarlan yang sudah lebih dulu mendunia adalah hal yang sederhana namun sangatlah esensial, yaitu: Levi memilih melepaskan beasiswa S3 nya dari Manhattan School of Music di New York dan memilih untuk menetap di Indonesia untuk mengajar musik kepada junior-junior di Indonesia. Sedangkan Ananda Sukarlan? Seperti yang telah sama-sama kita ketahui ia tinggal dan menetap di Spanyol, meskipun rutin mengadakan konser di Indonesia.

Jadi, dengan  dedikasi seperti itu, apakah Levi Gunardi pantas dikatakan sebagai seniman yang menciptakan karya yang berdaya saing tinggi?

***

” ing madyo mangun karso” — di tengah membangun karya

-Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro)-


About this entry