The Good Samaritan

Tulisan ini sama sekali jauh dari maksud Kristenisasi bagi siapa pun. Cobalah baca dengan hati tenang, pahami artinya, dan sesekali berpikir apakah sepenggal cerita di bawah sesuai dengan kehidupan nyata kita.

Saya bukanlah seorang Kristen yang taat atau seorang yang patut dijadikan teladan dalam beragama. Saya sungguh jauh dari itu semua.

Tapi saya punya suatu ayat Alkitab favorit selain ayat dari Efesus 4:2 (‘Hendaklah kamu selalu rendah ati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu’) dan keseluruhan kitab singkat Nabi Ayub – keduanya sangatlah sulit dilakukan, ayat favorit yang saya maksud adalah Lukas 10:25-37, cerita tentang Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati, atau lebih dikenal dengan The Good Samaritan.

Kenapa saya tiba-tiba membahas cerita ini, ya karena salah satu dosen kebanggan saya, Mas Bob, belakangan ini dalam kuliah nya selalu menyebutkan istilah The Good Samaritan. Maka saya mencoba membaca ulang perumpamaan ini.

***
Seperti inilah isi dari cerita Orang Samaria yang Murah Hati.

The Good Samarian

The Good Samaritan

Lukas 10:25-37
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: ‘Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali’.”
Lalu kata yesus lagi:
36 “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

***

Ada berbagai macam refleksi yang bisa didapat dari cerita/perumpamaan ini. Refleksi di bawah ini hanyalah perenungan sederhana menurut pemikiran saya. Sekali lagi, sederhana dan hanya menurut pemikiran saya.

Yang pertama adalah aktor dari sepenggal ayat ini, mereka adalah:
1. Yesus: disebut ‘Guru’, pada masa itu, Ia sedang dalam masa jaya-jayanya, memiliki banyak murid (yang disebut Nabi) dan ribuan pengikut yang setia mengikutinya ke berbagai penjuru dunia ‘per-Alkitab-an’ guna mendengar ajaran-ajarannya. Keberadaan Yesus ini sudah tentu menjadi ancaman bagi para ahli Taurat (ahli-ahli Hukum Taurat-hukum yang diberikan Allah pada zaman sebelum Yesus lahir).
2. Para ahli Taurat: golongan yang dituakan di dalam lingkungan gereja. Menganggap golongan merekalah yang paling mengerti Hukum Taurat dan bahkan yang paling suci.
3. Orang terluka karena dirampok: aktor ini bukanlah fokus utama, tapi mereka adalah trigger dari cerita ini.
4. Imam: bisa dikatakan sebagai seorang yang berada di golongan kedua setelah ahli taurat.
5. Orang Lewi: kelompok orang kaya di zaman itu, kelompok pengusaha dan pekerja pemerintah.
6. Orang Samaria: kelompok orang yang paling rendah dalam tingkat sosial masyarakat pada masa itu, dan sangat dibenci oleh orang Yahudi. Cerita orang Samaria lain yang ada di Alkitab adalah tentang Perempuan Samaria yang merupakan seorang Pelacur. Orang Samaria merupakan tokoh utama dalam kisah ini.
7. Pemilik penginapan: figuran dalam cerita ini.

Di awal cerita, dapat diketahui bahwa Ahli Taurat sedang mencoba menguji Yesus, menguji keimanan dan kesetiaan Yesus terhadap Hukum Taurat, dimana pada masa itu, Hukum Taurat dianggap sebagai hukum tertinggi di atas segala hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan manusia. Karena itulah, bagi orang Yahudi yang hidup menurut Hukum Taurat, selain mencintai Tuhan, mereka juga terikat dengan hukum untuk mencintai sesamanya manusia.

Di dalam perjalanan di antara Yerusalem dan Yeriko merupakan jalan yang berbahaya, selain jalan berbatu, jalur ini dipenuhi oleh perampok yang kejam yang tidak ragu untuk membunuh para pengguna jalan. Point ini dapat diibaratkan sebagai jalan hidup kita sebagai manusia. Terdapat jalur di antara titik kelahiran seorang manusia hingga titik matinya. Pada perjalanan antara hidup dan mati itulah manusia selalu berusaha untuk mencapai segala macam kebaikan di dalam hidupnya, dan tentunya berusaha untuk mencapai tingkatan-tingkatan yang diinginkan.

Lalu kemudian, pada suatu tahap di dalam perjalanan hidup, kita bisa pada level di atas, tengah, atau di posisi terbawah, seperti roda yang selalu berputar. Kita bisa berada pada posisi si Imam, atau orang Lewi, atau bahkan di posisi orang Samaria di dalam cerita di atas. Namun, bukanlah posisi itulah yang menjadi esensinya, tapi apa yang kita perbuat di dalam hidup, tanpa memandang siapa kita.

Orang Samaria pada cerita di atas merupakan simbolisasi bagi golongan orang langka di dunia ini: orang baik hati, tanpa pamrih, mengedepankan nilai kemanusiaan bukan nilai dalam hukum masyarakat. Kita bisa melihat dalam kehidupan nyata, orang yang biasa menolong orang lain yang dalam kesusahan kebanyakan adalah orang-orang yang menginginkan imbalan atas perbuatannya, dan sering sekali berpikir: ‘untuk apa menolong orang yang tidak dikenal jika tidak menguntungkan?’. Apalagi jika harus mengeluarkan biaya lagi dalam menolong orang tersebut, atau bahkan dapat membahayakan diri mereka sendiri.

Golongan-golongan tertentu dalam politik sering kali memanfaatkan kelompok orang yang termarginalkan guna menarik simpati kepada golongan mereka. Atau bahkan tidak berlaku apa-apa karena takut atau malas dicap ‘sedang mencari simpati’ atau ‘halah, paling sekalian kampanye’. Menjadi serba salah bukan? Mana yang lebih baik dilakakukan?

Selain itu, pada ayat 37, saya menebalkan jawaban dari ahli Taurat “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”, ketika Yesus bertanya “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”.

Ya, dunia memang dipenuhi oleh orang-orang oportunis, yang terkadang tidak mau ‘menyebut merk’ jika tidak menguntungkan bagi dirinya, tidak mau mengakui kebaikan orang lain hanya karena oknum tersebut menjadi kaum minoritas yang tidak disenangi dalam masyarakat atau kelompok sosial. Coba bayangkan, jika kedudukan Orang Samaria pada masa itu adalah kelompok orang yang ditinggikan. Mungkin (dan sudah pasti) ahli-ahli Taurat akan menjawab ‘Tentu saja Orang Samaria! Bukankah sudah jelas?’ Kita, manusia, memang lebih sering peduli dengan apa kata orang, bukan dengan apa yang seharusnya dilakukan. ‘Apa kata orang’ menciptakan suatu sistem berlaku di dalam masyarakat.

Sedangkan kepedulian, kemanusiaan, kebaikan hati, dan kasih terhadap sesama yang sesungguhnya lebih sering menunggu giliran untuk diekspresikan dengan rasa iklas.
Itulah kehidupan kita sehari-hari.

***

Muak? Ya, tapi mau bagaimana lagi. Saya juga termasuk ke dalam kelompok yang selalu ingin menjadi mayoritas, bukan minoritas. Dan semuanya kembali kepada perilaku kita masing-masing saja.

Sekali lagi, ini bukan suatu cara kampanye agamais lho. Dan sama sekali tidak ada niat mau sok-sok mengajari. Saya sendiri saja sedang berusaha melakukan apa-apa saja yang tertulis di Amsal Salomo. Seandainya seperempat dari manusia di bumi ini membaca dan melakukan yang tertulis di Amsal Salomo, pastilah Bumi akan berubah nama menjadi Surga.

Bayangkan, jika satu kitab bisa mengubah dunia, apalagi keseluruhan kitab dari semua kitab suci agama yang ada.


About this entry