Persahabatan (itu apa?)

Gue dari dulu itu selalu heran, heran dengan teman-teman gue atau orang-orang yang selalu mempermasalahkan apa itu persahabatan, baik secara harfiah atau pun arti di dunia nyata.

friendship?

Friendship?

Teringat akan masa-masa SMP dulu di pojokan ruang kelas I-4, kelas gue. Gue dapat sepotong kecil surat dari seorang teman yang ditujukan untuk beberapa orang teman, isinya kira-kira begini:

‘N, Edna, kalian adalah teman baik gue. Teman baik gue saat ini adalah kalian berdua, si A, si B, si C, si D.. Gue belum punya sahabat, jadi sekarang kalian berusaha untuk jadi sahabat gue ya…!’

Yaah, kalo sekarang diinget-inget, surat itu freak banget ya.  Hmmm, meskipun teman gue itu adalah salah satu perempuan tenar di waktu SMP karena kecantikan, kekaleman, kepintaran dan darah campuran nya yang keren banget (perpaduan jepang-belanda-indonesia); tapi kenapa dia begitu PD sekali ya untuk ngirimin gue surat seperti itu.

Pertemanan gue dengan teman gue yang ngirim surat tadi, sebut saja namanya si M, berawal dari les pelajaran waktu kelas 6 SD. Gue blajar bareng di tempat les, di telfon juga blajar, sering telfon-telfonan sehari lebih dari 3x dan masing minimal 1jam,  gue sering minjem komik dari dia, ledek-ledekkan, dan hal-hal lainnya yang bikin kita smakin dekat. Kedekatan itu berlanjut karena gue dan M bisa sekolah di SMP yang sama, bahkan kita masuk di kelas yang sama, di sebuah kelas unggulan. Pertemanan terus berlanjut, hingga karena suatu kejadian yang gue ga inget apa, kita jadi tidak dekat lagi. Apa lagi setelah kelas 2 SMP kita ga sekelas lagi.

***

Cerita lain, seorang teman juga pernah bertanya ke gue sebelum kami memejamkan mata untuk tidur : ‘Na, gue itu sahabat lo bukan?’ (ya, ini omongan sedikit tidak penting tapi juga sedikit penting)

Dan setelah dia nanya, gue diam, kaku, dan ga bisa jawab apa-apa, selain: Emangnya kenapa?’

Gue diam dan jawab seperti itu bukan karena gue gak mau mengakui dia sebagai sahabat gue. Tapi lebih karena arti sahabat itu masih absurd buat gue. Sangat abstrak jika harus dikatakan dengan kata-kata.

***

Hal lain yang mengganggu pikiran gue juga terjadi baru-baru ini. Ada lagi orang yang mempertanyakan dengan jelas apa beda ‘teman’ dan ‘sahabat’. Oalah, pake ditulis di status facebook lagi!

Lalu ada sejumlah wall yang menjawab status itu.

Si A nulis: temen itu media utk bermain dan gosip shbt itu tmpt saling menghargai dan saling jujur dan ternyata, memang sahabat/persahabatanlah yg susah sekali terjalin.  dan sbnrnya masih bnyk lg aspek2 yg akan membntuk suatu persahabtn. gk hanya menerima&memberi, tp jg rasa sling percaya. yaudh, gk usah stuck ama pikiran2 ky begini. Malah tmbh pusing. jalanin aja, nanti yg namanya persahabtn jg bakal tumbuh dg sndirinya. kita cr tmn aja dulu sbnyak2nya. ok.=)

Si B nulis: temen emang sebagai media bermain dan bergosip, tapi kalo sahabat adalah media dari hati ke hati dan bukan lagi bergosip, tapi mengklarifikasi yang beredar. kalo emang sebagai sahabat, pasti bakal langsung tanya kepada orang yang bersangkutan rin mengenai gosip tersebut. temen emang banyak, tapi sahabat itu susah di cari, lah wong yang udah kenal dari dulu, udah tau luar dalemnya, susah senang selalu bersama, tapi sekarang buktinya malah jauh, sedih kan?

***

Lalu tadi pagi seorang teman (yang kali ini dengan yakin dan bangga gue  kategorikan sebagai sahabat gue) ngobrol di YM, seperti ini:

HG (10/25/2008 10:31:04 AM): aeh ada gosip2 terbaru ga nieh?
Edna Tarigan (10/25/2008 10:31:16 AM): gosip apa ni lor?
HG (10/25/2008 10:31:18 AM): ttg gw gt?
HG (10/25/2008 10:31:23 AM): hahaha..
HG (10/25/2008 10:31:46 AM): apa aja x aja ada yg lg ngomongin ttg gw…

HG adalah sahabat gue sejak SMP, kita kenal di gereja. Sempat pisah 1tahun, karena dia pindah ke Bandung untuk kuliah, dan akhirnya gue kuliah di Bandung juga. Gue dan HG bersahabat dengan 3 orang yang lain yang udah gue kenal lebih dulu sebelum gue kenal HG. Kita ber-5 pun tergabung di sebuah band di gereja. Dengan mereka, gue bisa menemukan analogi kepompong pada persahabatan: merubah ulat menjadi kupu-kupu, hal yang tak mudah menjadi indah. Karena banyak hal yang tidak cukup dituliskan di sini yang bikin gue sadar siapa mereka. Dan itu adalah sebuah proses yang panjang.

Ga cuma sekali HG seperti di YM tadi pagi, sudah berkali-kali juga dia nanya hal-hal kayak di atas, gue jawab sejujurnya, apa adanya. Bahkan dia bercerita soal gosip A, B, C tentang dia yang disebarkan oleh sodara gue sendiri. Ya, sepupu jauh gue menyebarkan gosip ga enak soal HG ke keluarga besar mantan gebetannya si HG. Brengsek, saat itu menjadi saat dimana gue harus memutuskan siapa yang harus gue percaya. Bisa ditebakkan, siapa yang gue percaya.

Dengan 3 orang yang lain, walaupun berbeda kota, gue masih mengusahakan untuk tetap berkomunikasi. Dan sekali lagi, ujian kepada saya akan persahabatan datang. Pada saat 1 dari 3 orang itu terpaksa menikah karena suatu sebab yang tidak pernah direncanakan terlebih dahulu (you know-lah). Di saat semua orang sibuk bergonjang-ganjing tentang dia, gue mencoba untuk mencari titik terang kenyataan sebenarnya, walaupun sahabat gue tadi nyaris gak bisa dihubungin. Hasilnya? Tetesan air mata haru di saat gue dan sahabat-sahabat lain menyanyi di pemberkatan nikahnya. Ya, kami berbicara, dari hati ke hati. Sangat disayangkan, kedepannya ada hal-hal lain yang tidak bisa dipaksakan untuk dibuka ke kami, karena satu dan lain hal.

***

Jadi apa sih hal-hal yang menjadi syarat dan prasyarat untuk kategorisasi persahabatan? Dari pengalaman-pengalaman paling membekas yang gue tulis di atas, gue mencoba membuat syarat dan prasyarat untuk kategori ‘Kamu sahabat saya!’, yaitu:

  1. Sering bertemu dan ngabisin waktu bareng-bareng?
  2. Tahu luar dalem sahabat?
  3. Sering telfon-telfonan atau sms-an?
  4. Klarifikasi sana sini demi nama baik sahabat?
  5. Ada di saat sahabat susah dan senang?

Dan apakah kalo hal-hal itu sudah tercapai lantas seseorang itu bisa dikatakan sebagai sahabat?

***

Masing-masing pasti tahu jawabannya. Kalau gue, kategori-kategori di atas tidak cocok buat gue. Well, gue ga bisa berjanji ke teman-teman gue kalo gue bakal rajin telfon atau sms, atau untuk datang secepat kilat kalo dia butuh. Apalagi kalo sahabat gue ada di beda kota.

Bahkan untuk point no. 4, klarifikasi? Does it matter for any friendship? Klarifikasi sama halnya dengan pengakuan terhadap eksistensi persahabatan. Yaah, kalo emang sahabat, pasti tau mana hal yang baik/buruk-benar/salah tentang sahabatnya. Ga peduli kata orang, kepercayaan adalah hal yang terutama. Dan sebagai sahabat, jika sahabatnya salah kita memang harus berjuang untuk kebenaran, memberi tahu apa yang benar dan baik untuk sahabat. Itu susah, tapi harus diperjuangkan, walau menjadi minoritas. 2 kalimat terakhir adalah satu-satunya hal yang tidak absurd dari persahabatan bagi saya.

***

Jadi, gue lagi-lagi bertanya? Apa itu persahabatan?

Itu ada hanya di hati anggota persahabatan itu. Rasa memiliki, tanpa harus diakui atau diucapkan dengan kata-kata…

Sadarilah itu secepatnya, sebelum anda sadar setelah kehilangan.

*****

“Misfortune shows those who are not really friends.”
-Aristotle-


About this entry