POLITIK KAMPUS (PART 3): Eksistensi dan Tanggung Jawab

Sebuah refleksi untuk kita semua…

Sore ini, seorang teman datang ke kosan gue dalam rangka curhar (curhat membakar). Dari siang udah ngirim SMS ke gue yang isinya: ‘Na, lw dmana? Gw mw ngmg ma lw‘. Sangat singkat dan terksesan agak putus asa. Dan akhirnya bertandanglah dia ke kosan gue. Sebut saja teman gue itu Si YND (baca: Yah Namanya Diganti).

Mulailah YND bercerita tentang sebuah acara di kampus. Jabatannya di acara itu cukup tinggi, dan tentu saja penting. YND bercerita tentang kemarahannya kepada salah satu panitia, sebut saja X, dengan alasan ‘Kesabaran gue habis, Na. Tu orang attitude nya minim banget! Gimana ga kesel gue!’. Namun dia menambahi embel-embel kalau dia merasa bersalah karena kemarahannya itu.

Curhar yang awalnya diusahakan dengan tenang kemudian malah membuka banyak unek-unek dari YND. Gue menggeleng-geleng, dan tetap berharap acara itu bisa tetap berjalan dengan baik dan menguntungkan semua pihak yang bersangkutan dengan acara ini.

Selesai dia menceritakannya semuanya, gue mulai memberikan solusi kecil-kecilan. Dari awal alasan dia milih gue buat curhar juga karena gue pernah mengalami hal yang cukup mirip dengan keadaannya sekarang. Sampai akhirnya, YND bercerita tentang waktu dimana ia baru saja menarik orang X untuk menduduki jabatannya. Dia (YND) bercerita waktu itu, kira-kira 6 bulan yang lalu, seorang temannya melihat tulisan di blog Friendster-nya X yang isinya kurang lebih menggambarkan seperti ini: ‘Yess, akhirnya gue bisa eksis juga, setelah 2 tahun menunggu!’.

Mendengar cerita itu, gue jadi ikut-ikutan emosi. Astaga! Acara kampus yang lagi dibahas ini itu penting sekali, menyangkut masa depan hampir 200 orang. Jadi ternyata Si X itu nerima jabatannya dia sekarang HANYA UNTUK EKSIS???!!!
Oh God, please forgive her!


***

Dear X,
Apakah anda tahu apa arti eksis sesungguhnya?
Apakah anda sadar betul kalau acara ini begitu penting?
Apakah anda tahu bahwa ada puluhan nama panitia harus siap menanggung malu jika acara ini gagal?

***

Saya berkembang di kampus FISIP HI Unpar dengan segala aktivitas, acara, pergaulan, dan tanggung jawab yang beraneka ragam. Dari awal masuk, saya diperkenalkan dengan TAMAN FISIP yang dianggap sebagai tempat berkumpulnya anak-anak FISIP. Hingga kemudian saya mendapatkan istilah ‘Anak-anak Taman’ bagi kelompok mahasiswa yang sering ‘nongol’ di kampus. Apakah mereka termasuk orang-orang yang eksis? Silahkan pembaca menjawab sendiri.

Di tahun pertama saya pun memasuki sebuah organisasi bernama Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI). Tidak sedikit orang yang menganggap organisasi ini ekslusif, karena berisi anak-anak pintar. Saya hanya tertawa saat mengingat cerita-cerita mengenai ini. Pintar? Itu hanya bonus yang kami dapatkan dari kesedian kami untuk meluangkan waktu berdiskusi tentang masalah internasional.

Lalu saya juga mengenal beberapa acara seperti Suka-Suka Nite (SSN), Temu Akrab HI (TAHI), Gathering and Introducing International Relations (GINTRE), Pasar Malam Kampus Tiga (PMKT), Praktek Diplomasi (Prakdip), Parahyangan Model United Nations (PMUN), Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), dan masih banyak acara lainnya yang kepanitiaannya bisa beranggotan 1-3 angkatan sekaligus. Masing-masing dari acara itu punya cirri khas masing-masing, ada yang bersifat akademis, ada yang non-akademis alias senang-senang. Di beberapa acara, dan di kebanyakan acara, ada sebuah persamaan yaitu adanya orang-orang tertentu yang terus-terusan muncul, alias EKSIS.

Rasanya, sebagaimana reaksi di POLITIK KAMPUS bagian 1, banyak orang yang setuju kalau eksistensi kita sebagai mahasiswa merupakan pilihan dari awal. Lebih lagi kalau memang ada orang-orang yang nongol terus itu adalah karena adanya embel-embel ‘kalo emang gue mampu kenapa enggak?’. Gue pribadi juga ga keberatan kok dengan adanya rezim di dalam kehidupan kampus, selama tanggung jawab itu memang terlaksana. Bagi anda yang merasa tersingkirkan, yaaah, itu mungkin sebagian kecil dari salah anda: tidak mencari kesempatan dan memanfaatkan kesempatan itu. Orang-orang yang disebut eksis juga bisa begitu karena mereka tau dan menggunakan kesempatan yang ada.

Hampir setengah tahun yang lalu gue juga mendengar adanya kudeta di sebuah kepanitiaan. Alasan kudeta itu yah lagi-lagi karena adanya isu eksistensi dan kurangnya kesempatan bagi mereka yang menyebut dirinya tidak eksis. Apa yang terjadi selanjutnya? Terlepas dari masalah-masalah yang panitia hadapi, gue pribadi melihat acara yang baru saja selesai itu telah cukup sukses, berhasil menarik perhatian, dan membuktikan bahwa tanggung jawab itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

Yah, ini bukan masalah eksis atau tidak eksis. Kalau mau ‘nongol’ ya tunjukin diri lo ke semua orang. Coba cara yang tidak biasa, jangan cuma berharap pada jabatan-jabatan di kepanitiaan atau organisasi kampus saja.

Dan buat gue, EKSIS adalah suatu bonus bagi mereka yang memang beruntung dapat memperlihatkan dirinya kepada orang lain. (makasi buat Rio, adek gue, yang mengajarkan penggunaan BONUS dalam menghadapi suatu permasalahan)

Akan lebih beruntung lagi kalau mereka eksis karena kemampuan mereka yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya; misalnya dengan menciptakan sebuah prestasi, atau menjabat sesuatu di acara kampus.

Mati aja lo orang-orang yang menerima sebuah jabatan di kepanitiaan hanya untuk eksis!

***
Di akhir curhar itu, gue mengatakan kepada YND, bahwa yang diperlukannya kini adalah kesabaran ekstra, rasa mengalah kepada X-bahkan untuk mengerjakan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan X.
Jika orang itu masih waras, dia akan sadar apa tanggung jawabnya, dan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Cheerio!


About this entry