Cerita Tentang ‘Ludah’

Sebuah cerita saya bawa dari Jakarta kemarin. Cerita ini ternyata sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, diceritakan turun menurun dari buyut saya ke ibu saya lalu ke saya. Yaah, kalo pendeta di gereja kemarin tidak bercerita di kotbahnya, bisa saja cerita itu tidak sampai ke saya untuk saya bagikan.
***

Alkisah di masa dimana orang-orang dari Tanah Karo yang bermukim di gunung masih harus turun ke daerah pantai, melewati banyak perkampungan orang selain orang Karo.

Dua orang pedagang, sebut saja namanya Kawas dan Batu. Mereka sudah sering turun gunung untuk berdagang ke pelabuhan. Dalam perjalanan dari gunung ke pelabuhan, mereka melewati perkampungan orang Melayu. Dan dalam perjalanan itu, mereka pun sering menjual dagangannya ke penduduk di desa yang mereka lalui.

Hingga suatu hari, Kawas mengatakan kepada Batu bahwa iya telah jatuh cinta kepada salah satu anak gadis di perkampungan Melayu yang mereka lewati. Seorang gadis yang tinggal hanya bertiga dengan ibu dan seorang saudarinya. Sama seperti Kawas, Batu pun mengaku telah mengaku juga telah jatuh cinta dengan gadis di keluarga yang sama. Mereka pun sepakat, Kawas mendapatkan si Kakak, sedangkan Batu mendapatkan si Adik.

Kawas dan Batu menyusun rencana untuk melamar gadis-gadis impian mereka. Rencana itu hendak dilakukan dalam perjalanan mereka berikutnya ke pelabuhan. Berhubung Kawas dan Batu tidak mengerti Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu) dan orang Melayu tidak mengerti bahasa Karo, dua sahabat ini mempelajari 3 kalimat dalam Bahasa Melayu yang menurut mereka membawa arti positif dan menyenangkan dua gadis itu dan sang ibu.

Kalimat pertama adalah “lagi-lagi”, karena tiap pembeli yang mereka temui selalui mengatakan “Lagi-lagi” ketika mereka berdagang, dan ketika menambahkan dagangan ke dalam timbangan, para pembeli pun tersenyum senang.

Kalimat kedua adalah “masih kurang”, karena kalimat ini juga sering sekali mereka dengarkan di pasar di pelabuhan setelah kata “lagi-lagi”. Kedua kalimat ini selalu dikatakan hampir bersamaan.

Kalimat ketiga adalah “ampun paduka”, karena mereka sering melihat pada kuli di pelabuhan dimarahin dan dicambuk oleh majikan mereka, tetapi setelah mengatakan kalimat ini mereka tidak lagi dihukum.

Hari yang mereka nantikan tiba. Kawas dan Batu berkunjung ke rumah gadis impian mereka. Tidak disangka Sang Ibu begitu ramah menyambut mereka. Rupanya, kedua sahabat ini memang terkenal sebagai pedagang yang baik hati.

Sang Ibu dan kedua anak gadisnya menghidangkan makanan untuk Kawas dan Batu. Dan setelah selesai makan, tikar yang terbaik pun dibentangkan untuk Kawas dan Batu.

“Tidur…Tidur” kata Ibu.

Kawas dan Batu saling bertatapan. Mereka tidak mengerti apa arti perkataan Ibu. Bahasa Karo-nya ‘tidur’ adalah ‘medem’. Jelas saja dua sahabat ini tidak tahu.

Celakanya, mereka menerjemahkan kalimat Ibu sebagai ‘Cidur’, yang dalam bahasa Karo artinya ‘meludah’.

Ih, cidur kita nina. (Ih, kita disuruh ngeludah, katanya). “ kata Kawas kepada Batu.

Gua kel e, amak e seh kel mejile na adi man i ciduri. (gimana ni, tikar nya terlalu bagus untuk diludahi)” timpal Batu, bingung.

Keduanya bingung. Sangat aneh jika Ibu meminta mereka meludahi tikar yang bagus itu. Tapi Kawas dan Batu tidak ingin mengecewakan Ibu.

Adi bage, darami ka suntil ras sirih, gelah mejile cidur ta. (Kalo gitu, ayo kita cari sirih*dan teman-temannya*, supaya bagus ludah kita)” sambung Batu lagi. Mereka pun mencari bahan-bahan yang biasa digunakan orang Karo untuk mengunyah sirih sehingga air ludah mereka berubah menjadi warna merah.

Setelah mendapatkan bahan-bahan menyirih itu, Kawas dan Batu pun segera menyemburkan ludah berwarna merah menyala mereka ke tikar si Ibu tadi. Dan kini tikar itu sudah berwarna merah di mana-mana karena ludah mereka.

Si Ibu pemilik rumah beserta kedua anak gadisnya masuk ke kamar melihat Kawas, Batu, dan Tikar mereka yang sudah tidak karuan warna (dan bau pasti)-nya. Jelas saja Ibu marah besar melihat ulah dua pedagang tadi.

“Apa nya kalian ini! Sudah baik-baik kukasih makan, kukasih tempat untuk tidur. Sekarang malah kalian ludahi tikarku itu. Kurang ajar!!!” teriak sang Ibu. Ia pun lalu mengambil kayu lalu memukul Kawas dan Batu.

Kawas dan Batu berteriak-teriak dengan Bahasa Karo. Tapi tentu saja Ibu tidak mengerti isi teriakan mereka. Dan tiba-tiba, teringatlah dua sahabat itu akan tiga kalimat yang mereka pelajari sedari kampong mereka.

“Lagi….Lagi…!!” teriak Kawas. Si Ibu bingung, ia pun lalu memberikan pukulan lagi kepada kedua pemuda itu.

Kawas dan Batu heran, reaksi si Ibu berbeda dengan reaksi pembeli mereka ketika mengatakan ‘Lagi…Lagi’.

“Masih kurang!” kali ini Batu yang berteriak. Si Ibu tambah heran, namun ia tetap memukul, karena memang kedua pemuda itu tidak memintanya berhenti, atau bahkan mengatakan maaf.
Di tengah keputusasaan mereka, Kawas dan Batu akhirnya mengerahkan semua harapan kepada kalimat yang terakhir.

“Ampun padukaaaa…” teriak mereka bersamaan. Dan seketika itu juga, Sang Ibu menghentikan pukulannya.

Setelah berhenti dipukul, keduanya pun segera diusir dari rumah Ibu dan kedua anak gadis itu. Sungguh malang nasib Kawas dan Batu, gara-gara perbedaan bahasa, keduanya tidak mendapatkan gadis impian mereka, dan justru mendapatkan pukulan.

***

Cerita ini tidak berarti apa-apa.  Saya hanya berbagi cerita yang mungkin bisa menghibur pembaca. Di tengah-tengah kuliah yang padat tugas dan berbagai macam kegiatan. Semoga cerita ini bisa mengendurkan sedikit urat-urat di kepala.

Cheerio


About this entry