As I learnt about ‘Simplicity’ from MASPERO and Praktek Diplomasi.

Banyak kejadian yang saya alami belakangan ini. Dimulai dari menghadiri acara Malam Seni dan Seni Permata Karo (MASPERO 2008) hingga proses menghadapi sidang Prakdip, saya mendapatkan sebuah pelajaran berarti, yaitu ‘simplicity’ atau ‘kesederhanaan’.

Oiya, MASPERO itu adalah acara festival seni gereja gue, GBKP, yang diadakan oleh GBKP se-Jakarta-Palembang. Dalam festival ini, yang diperlombakan adalah paduan suara, vokal solo lagu Karo, band yang membawakan lagu Karo, tari kreasi Karo, fotografi, dan Putra-putri Karo. Di sinilah pelajaran tentang simplicity itu mulai saya sadari.

Saat pemenang-pemenang festival diumumkan, tidak sedikit pihak-pihak yang heran dengan hasil yang diumumkan. Di kategori paduan suara misalnya, gereja saya (GBKP Kebayoran Lama) mendapatkan juara 2. Itu bukan masalah untuk kami, tapi kami sungguh heran ketika melihat pemenang juara 1-nya yang tidak sesuai dengan perkiraan kami.

Saya sendiri, sebagai pengamat musik, dan oleh seorang teman (katanya) dianggap lebih bisa menilai, merasa sedikit aneh. Lalu beralih ke kategori Band, saya memang tidak menyaksikan sewaktu festival band berlangsung, namun dari cerita teman-teman yang bercerita, saya bisa menarik kesimpulan bahwa sedikit kemungkinan bahwa band dari gereja saya akan meraih juara 1.

Kecil kemungkinan, mengingat banyak musikalitas band dari peserta lain yang lebih baik, kreatif, dan…ah saya bisa membayangkannya, namun tidak dapat menuliskannya. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Pada saat juara diumumkan, sangat tidak disangka band dari teman-teman gereja saya justru mendapatkan posisi juara 1. Penampilan band ini bisa dilihat melalui link ini. Di sini saya kembali bertanya-tanya, apa mungkin cerita teman-teman saya saja yang berlebihan?

Dan yang paling saya ingat adalah pada kategori vokal solo. Peserta yang ikut cukup variatif, laki-laki dan perempuan, banyak aransemen, pakaian yang mencolok, dan blablabla lainnya-bahkan ada yang sampai tampil membawa alat-alat music tradisional beserta seorang budayawan Karo. Saya memang terpana pada penampilan peserta dari seluruh peserta. Namun, layaknya Indonesian Idol yang sering sekali menutup acara dengan kontestan berpenampilan paling memukau, saya justru lebih terpana dengan peserta terakhir, yang akhirnya meraih gelar juara 1 pada kategori vokal solo.

Setelah pemenang diumumkan, saya dan teman-teman mencoba menilai ulang hasilnya. Mengapa begini? Mengapa begitu? Kenapa mereka? Kenapa kita? Dan singkat cerita, sebuah benang merah, yaitu simplicity.

Ya, dari beberapa kategori, saya melihat, bahwa peserta cenderung berekspetasi tinggi untuk memenangkan lomba. Mengeluarkan segenap kepercayaan diri, sumber daya-sumber daya yang terbaik (yang itu-itu aja), property-properti yang heboh, semuanya dengan tujuan memenangkan festival ini. Namun, apakan sesungguhnya kita (yang ikutan MASPERO kemarin), mengingat apa tujuan kita berpartisipasi dalam MASPERO? Sekedar mengingatkan juga, ada kata ‘apresiasi’ dari akronim MASPERO itu, bukan pertandingan, selain itu, haruslah diingat bahwa kita adalah orang Karo.

Bolehlah berkreasi sedemikian rupa, pake property ini-itu, alat-alat ini-itu, namun, jangan lupa bahwa budaya Karo adalah budaya yang sederhana. Musik Karo tercipta bukan sebagai hiburan semata, tetapi juga sesuatu yang digunakan untuk mengagungkan ciptaan Tuhan dan menceritakan kehidupan itu sendiri. Jadi, mengapa harus berpikir bahwa yang kompleks dan banyak kreasi lah yang menang? Pertanyaan barusan lah yang menjawab banyak tanda tanya di pikiran saya sewaktu MASPERO kemarin.

Dan untungnya, hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

***

Dari kelas Praktek Diplomasi, sebagaimana teman-teman saya yang lain, saya sendiri mengalami banyak kesimpangsiuran, ini atau itu dan sebagainya. Penampilan (blazer, jas, sepatu, dan embel-embelnya), undangan dan tempat untuk informal meeting, dan yang paling penting adalah agenda sidang dan tentunya positioning paper. Satu-persatu hal-hal itu semua memasuki kepala saya, membentuk jalinan benang yang nyaris kusut, dan tumpang tindih dengan kewajiban lain kepada orangtua untuk mengeluarkan diri dari kampus secepatnya.

Pada kasus prakdip ini, saya menyadari, banyak kepentingan yang bermain. Kepentingan peserta yang berhubungan dengan nilai mata kuliah 4SKS ini (+/- 1juta sendiri untuk Pradip: 4SKS @ 148.000 + penunjang penampilan +/- 500.000 + kebutuhan editorial Pospap), kepentingan panitia, dan kepentingan dosen. Dan akibat kepentingan ini lah kemudian hampir semua hal menjadi ribet.

Belum lagi ditambah dengan euphoria sidang yang semakin mendekat. Banyak kecurigaan-kecurigaan yang datang, baik di antara peserta Prakdip, atau di antara pihak-pihak lainnya. Hilang sudah kesederhanaan berpikir kita.

Bukan masalah kepentingan yang saya ingin tegaskan. Tapi dari beberapa hari ini, saya mencoba tidak mengambil pusing hal-hal yang berkaitan dengan tugas-menugas kampus. Coba mencari tujuan utama, lalu mencari jalan paling sederhana untuk dapat mencapai tujuan itu, tanpa melepaskan esensi dari tugas-tugas itu sendiri. Dan di pertemuan-pertemuan bersama teman-teman peserta Prakdip pun, saya menemukan, masing-masing individu juga menginginkan kesederhanaan dalam pelaksanaan sidang Prakdip nanti.

Di sini saya bertanya, apakah sebenarnya tujuan dari kuliah Prakdip ini? Sekedar nilai kah? Atau ajang hura-hura dan membawa gengsi diri dan kelompok? Silahkan menjawabnya sendiri.

***

Memang susah, menciptakan suatu kesederhanaan berpikir dan bertingkah laku. Terlalu banyak orang-orang yang berpikir ribet, mungkin saya pun adalah salah satunya. Namun, ada kalanya, kesederhanaan dapat menjadi kunci untuk mencapai tujuan awal dengan cara yang lebih mudah.

Tulisan ini lagi-lagi hanya sekedar opini kecil dari saya. Setuju atau tidak, boleh berkomentar.

“Everything should be made as simple as possible, but not one bit simpler.”

-Albert Einstein (1879 – 1955)-


About this entry