Salam Damai!

Natal udah dekat, tinggal menghitung rangkaian hari dalam minggu aja. Yah, tulisan gue kali ini bukan mau sok-sokan jadi kayak pendeta di gereja dalam menuangkan arti natal bagi mereka.

christmas-scene

Well, udah tiga tahun gue kuliah di Bandung, tapi gue selalu melewatkan natal dan tahun baru dengan keluarga gue. Karena dari semua bulan dalam setahun, Desember adalah bulan yang paling gue tunggu, dengan waktu berkumpul sama sodara-sodara gue yang pasti berasa beda di waktu natal.

***

Dua minggu yang lalu, gue ikut teman-teman ke gereja Katolik di Setia Budi. Ada yang berkesan dari misa minggu itu. Bukan renungan yang dibawakan pastur, tapi pengalaman saat bersalam damai dengan jemaat yang lain.

Waktu itu di belakang gue duduk seorang ibu-ibu yang uda cukup berumur, ada suaminya juga di sebelahnya. Si suami masih terlihat segar bugar, tapi si ibu itu tadi jelas terlihat seperti udah pernah kena serangan stroke. Yang berkesan buat gue adalah sewaktu bersalam-salam damai. Jarang banget gue menghayati moment-moment salam damai, baik di gereja tempat gue biasa atau dimanapun. Tapi salam damai dengan ibu itu terasa berbeda.

Gimana gue bisa jelasin ya… Karena itu berasal dari apa yang gue rasakan. Ada kedamaian yang sesungguhnya gue rasakan dari ibu-ibu yang terserang stroke itu, terasa sangat tulus, lembut, dan yah gitulah.
Itu pengalaman pertama gue dalam mencoba menyusun arti damai natal tahun ini.

Dari pengalaman ini, yang bisa gue tangkap adalah rasa iklas dan niat untuk memberikan kedamaian bagi sesama. Mungkin si ibu tadi tidak menyadari bahwa dia udah memberikan suasana damai di hati gue. Tapi melalui rasa damai yang gue dapat itulah gue justru berpikir ‘bagaimana gue bisa memberikan rasa damai seperti itu ke orang-orang di sekitar gue?’

Dari pemikiran itulah kemudian gue mulai mengevaluasi perilaku gue yang lebih banyak minusnya daripada plusnya. Dari pemikiran itu juga gue mencoba untuk lebih nrimo, ya menerima kekurangan diri gue sendiri, dan menerima kekurangan orang lain. Proses yang sungguh amat sulit, gue belom sukses melakukannya.

***

Pengalaman kedua adalah beberapa pengalaman yang bercampur menjadi sebuah usaha untuk selalu berpikiran positif. Susah! Kebiasan doyan gossip itu yang bikin usaha ini makin susah. Ada kejadian apa biasanya pasti nyari penyebabnya dari hal-hal yang negatif dulu. Ada suatu hal yang harus gue hadapi pasti gue langsung mikir kejadian terburuknya, padahal belum tentu juga yang terjadi adalah yang terburuk.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu nyokap nelfon. Dia cerita kalo adek gue Kiky ikutan rombongan pencinta alam SMA nya tahun baruan di Ujung Kulon. Di rombongan itu, ada adek gue yang paling kecil, Rio, yang juga gabung ke tim pecinta alam itu. Kesel banget gue begitu tau nyokap gue mengizinkan Kiky pergi. Gimana enggak, udah 3 tahun dia ga natalan dan tahun baruan di rumah. Kalo tahun ini ikut lagi yah berarti tahun ke empatnya, dan gue bakal sepi dan ga ada yang bantuin di rumah.

Tapi pas gue tanya alasan nyokap gue ngijinin adek gue pergi, gue langsung diam dan ga ngebantah. “Mama pikir bagus juga Kiky ikut, jadi ada yang ngawasin Rio di sana.” gitu kata nyokap gue. Well yah, Rio adek gue emang sedikit bandel, dan perjalanan ke Ujung Kulon itu bisa dibilang sebagai perjalanan pertamanya, karena selama ini dia baru menjalani pelatihan aja. Gue yang tadinya terlalu egois, ga rela adek gue pergi sementara gue harus ‘menjadi tumbal’ di rumah, setelah dengar alasan nyokap gue jadi sadar kalo ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan suatu kejadian harus terjadi. Intinya adalah melihat suatu kejadian dari berbagai sisi, teori yang sangat familiar di kuliah-kuliah gue selama ini, tapi ternyata agak sulit kalo dilakukan di kehidupan sehari-hari. Mitch Albom punya cerita menarik tentang point ini di bukunya The Five People You Meet in Heaven.

Cerita kedua, terjadi pagi tadi. Saya dinasehati seorang dosen akibat perkataan saya yang terkesan justru menyalahkan diri sendiri dan membanding-bandingkan kinerja penyelesaian skripsi saya dengan skripsi teman-teman yang lain. Beliau mengingatkan, yang penting bukanlah membandingkan saya dengan orang lain, karena masing-masing punya keunikan tersendiri dalam pembahasan skripsinya. Yang penting adalah membandingkan ke dalam diri sendiri, maksudnya adalah dengan membandingkan kinerja hari ini dengan kinerja sebelum-sebelumnya. Dari perbandingan itulah kemudian saya semakin tahun apa kekurangan dan kelebihan dari hal-hal yang selama ini sudah saya lakukan. Begitulah kira-kira perkataan sang dosen. Ya ampun, gue nyaris ga bisa ngomong apa-apa lagi. Di tengah semua kekhawatiran gue tentang skripsi gue, gue tiba-tiba seperti mendapatkan sinyal ke arah optimisme diri gue sendiri.

Masih ada beberapa kejadian menyangkut point ini. Tapi ga semuanya perlu gue umbar. Yah, lagi-lagi, semuanya itu menunjukkan bahwa berpikir positif itu tidak gampang, tapi bisa ada karena kita sendirilah yang menciptakannya.

***

Yang ketiga adalah bersyukur atas identitas yang sudah ada.
Belakangan ini banyak kejadian seru di kampus. Ada seorang dosen yang ceritanya mengundurkan diri dari kampus yang kemudian berbuntut pada diskusi panjang lebar di dunia maya, saling kritik sana-sini, dan kekecawaan dari beberapa pihak.

Kemudian kejadian lain adalah belakangan ini gue rajin lagi baca berita di kompas.com. Yang menjadi masalah bukanlah beritanya, tapi komentar-komentar orang di berita-beritanya. Sampe kesel sendiri, karena ga sedikit orang-orang yang komentar kok berbicara seperti orang yang tidak berpendidikan. Yaah, biasalah, orang memang biasa mengkritik tanpa sudi untuk mengambil bagian ke dalam masalahnya.
Komentar si boleh, tapi mbok yaa sopan dikit. Bersyukurlah sama identitas yang sudah ada. Kalau memang tidak suka ya disampaikan dengan cara yang baik-baik. At least, tunjukkanlah identitas sebagai manusia beradab dan bermoral.
***
Yah begitulah…

Setelah lama tidak meng-update blog, saya baru bisa menyajikan tulisan ini. Semoga saja menarik untuk dibaca.

Bukan natalnya yang menjadi fokus utama gue, tapi suasana natal dan akhir tahun yang bikin gue berniat merefleksi kejadian-kejadian yang baru saja terlewatkan. Gue juga bukan individu yang sempurna kok. Terus mencoba adalah usaha yang bisa gue lakukan.

Salam Damai!

Cheerio…

200573103-001


About this entry