Review: Perempuan Berkalung Sorban

Postingan pertama di tahun 2009, sebuah review film dari film pertama yang gue tonton di bioskop di tahun 2009 ini.

Gue nonton film itu atas rekomendasi seorang teman yang mengatakan bahwa film ini bertemakan kesetaraan gender. Jadi, alhasil, bersama 3 orang teman yang lagi kurang kerjaan kita pergi ke XXI untuk nonton ni film.

perempuan-berkalung-sorban

***

Gue ga memuji sinematografi di film ini, karena memang kurang bagus, menurut gue. Hanya saja, dari sinematografi di awal, ada sesuatu yang membuat gue tertarik untuk mencari isi dari film ini. Mungkin itu ada kesederhanaan yang tidak biasa dari film-film Indonesia lainnya.

Betul kalau dikatakan kalau film ini bercerita tentang kesetaraan gender. Cerita tentang Anissa (Revalina S. Temat) yang berjuang dan berkorban demi kerinduannya untuk setara dengan laki-laki, seperti ke-2 kakaknya: belajar berkuda, sekolah setinggi-tingginya, dan mengenal dunia di luar pesantren ayahnya. Tidak diizinkan kuliah, Anissa justru dikawinkan dengan anak Kiai terkenal di daerahnya demi memajukan pesantren ayahnya. Ditambah lagi, ia justru menikah dengan laki-laki yang awalnya sopan tapi ternyata bengis di belakang. Sinopsis lengkapnya bisa dilihat di sini.

Film ini benar-benar menjabarkan tugas perempuan di dalam keluarga, sesuai dengan ajaran Islam; dalam arti kata, ajaran yang benar, sekaligus yang disalah kaparahkan secara ekstrim. Luar biasa,  karena baru kali ini gue melihat film Indonesia yang benar-benar menghujat Tuhan, dengan mengatakan ‘Allah hanya memihak kepada laki-laki!’. Feel-nya dapet banget lah, karena bisa ngerasain sebelnya, gregetannya, juga senangnya waktu Anissa bisa melupakan traumanya. Karena itulah, soal acting dari pemainnya tidak perlu diragukan lagi.

Sayang sekali, film ini terlalu panjang, durasinya lebih dari 2 jam. Dan plotnya benar-benar naik turun, yang bikin gue cenderung bosan di akhir-akhirnya. Apalagi di akhir cerita, jalan ceritanya juga kurang greget. ( ga enak kan kalo gue spoiling di sini). Dan berdasarkan judul, hanya sekali Anissa terlihat benar-benar berkalungkan sorban; yaitu ketika ia diseret-seret suaminya dengan sorban di lehernya untuk di rajam rame-rame.

***

Di akhir review, pas nonton film ini, gue kan nonton bareng temen cowok yang juga seorang Muslim. Sepanjang film dia justru maki-maki kehidupan pesantren di film ini. Hingga akhirnya gue dapat kesimpulan, ternyata laki-laki bisa dikategorikan menjadi dua: Lelaki Pecinta Tuhan atau Lelaki Pecinta Wanita. Tentu saja, teman gue itu adalah kategori yang kedua. Yang mana kah anda?

Cheerio!


About this entry