Remember Remember

Mari membuka tulisan kali ini dengan sebuah kutipan dari seorang novelist asal Perancis, Sidonie-Gabrielle Colette.

“I love my past. I love my present. I’m not ashamed of what I’ve had, and I’m not sad because I have it no longer.”Colette (1873 – 1954): The Last of Chéri, 1926.
cov_memory

Beberapa hari ini saya suka berpikir macam-macam. Banyak hal yang keluar dan masuk begitu saja, dalam waktu relatif singkat, dan susah untuk disaring. Hingga pada suatu titik saya pun berada dalam satu pemikiran yang konstan, tidak berubah-ubah dalam waktu yang cukup lama.

Pernahkan anda seperti saya?

Ya, saya berpikir, berusaha keras mencari ingatan masa kecil yang paling jauh yang bisa paling ingat. Dengan kata lain, saya berusaha mencari hal apa yang paling lama bertahan di dalam ingatan saya.

Lalu di waktu luang ketika kami sama-sama sedang berada di rumah saya bercerita kepada Mama.

“Ma, aku dari kemarin-kemarin nyoba-nyoba nyari ingatanku yang paling jauh,” saya memulai pembicaraan.

“Terus apa yang bisa paling jauh kamu ingat?” Mama bertanya. Di situ ia tersenyum. Saya berpikir, mungkin Mama pun sedang bernostalgia dengan ingatannya sewaktu saya dan adik-adik masih kecil dan tidak merepotkan seperti sekarang ini.

Dan sebenarnya, saya sudah punya jawaban ingatan apa yang paling jauh yang bisa saya ingat. “Aku ingat waktu kita sudah pindah ke Jalan Binjai,” jawabku sekali. Dulu, sewaktu di Medan, kami memang sempat tinggal di rumah nenek, lalu kemudian pindah ke Jalan Binjai.

Tapi entah kenapa saat berbicara kepada Mama pun saya masih penasaran, atau mungkin malah menguji diri sendiri, membuktikan saya bisa mengingat jaauuuuuuuuhhhh sekali. Berharap saya pun dapat mengingat hari dimana saya dilahirkan, hari dimana saya dibabtis, hari dimana saya merayakan ulang tahun pertama saya, hari dimana saya tahu bahwa saya akan segera mendapatkan seorang adik, atau hari dimana saya bisa melepaskan dot bayi saya. Semua itu saya pancing dengan suatu pertanyaan, “Umur berapa aku saat kita pindah ke Jalan Binjai?”

***

Saya akan membagi ingatan-ingatan yang menurut saya bagus untuk dibagi.

2005-2009 : saya mulai kuliah di HI Unpar. Ingatan masa-masa kuliah tentu saja masih terekam, kecuali hal-hal remeh-temeh yang pasti terlewatkan.

2002-2005 : saya sekolah di SMAN 47 Jakarta, saya bukanlah pelajar yang istimewa, bahkan sering merasa bahwa hidup saya itu hitam dan putih saja. Tapi di masa SMA inilah saya menemukan teman-teman yang dapat bertahan hingga sekarang ini.

1999-2002 : saya sekolah di SLTP Tarakanita 5 Jakarta. Sama seperti sewaktu SMA, saya bukanlah pelajar yang istimewa, bahkan sering merasa bahwa hidup saya itu hitam dan putih saja. Hal yang paling melekat dan sulit dilupakan adalah penyesalan dan sumpah serapah bahwa kakek tersayang harus meninggal di hari ulang tahun saya yang ke 14 (tahun 2001).

1997-1999 : saya sekolah di SD Ora et Labora. Kehidupan SD yang menyenangkan. Baru pindah dari Medan ke Jakarta, dan mendapatkan banyak teman baru tanpa melupakan teman-teman lama di Medan. Tapi percaya atau tidak, selama hidup saya sejak SD di Medan hingga awal-awal SMA, saya tidak memiliki teman yang benar-benar dekat, dan hanya menganggap bahwa teman terdekat saya adalah kakak sepupu saya yang tinggal di Medan.

  • Yang menarik di periode ini justru pertemanan di jemputan Om Nus.  Seperti anak kecil pada umumnya, di jemputan ini ada saja anak yang dijadikan sasaran untuk dimusuhi. Saya sebagai anak baru pun sempat merasakannya.
  • Saya ingat seorang teman saya ‘tiba-tiba menghilang’ di hari EBTANAS tanpa ada kabar yang tertinggal. Saya sempat merasa kehilangan, karena dia teman jemputan saya yang dulu sering menghabiskan waktu bersama dengan berenang, jalan-jalan menjelajahi lokasi proyek toll Bintaro yang sedang dibangun saat itu.

1993-1997 : SD kelas I sampai kelas III di SD Imanuel, Medan. Masa-masa inilah yang paling menyenangkan kalau diingat-ingat saat ini.

  • Saya ingat sebuah cerita konyol, dimana pada saat mau masuk SD saya dan keluarga pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Medan. Saat itu dengan lugunya (baca: konyolnya) saya minta meminta dibelikan baju dengan alasan bahwa saya sudah SD dan harus memakai baju baru karena baju-baju lama hanya untuk anak kecil saja. Konyol sekali bukan? Padahal kenyataannya, saya tidak perlu baju baru karena ukuran badan saya tidak berubah, yang berubah hanyalah jenjang pendidikan saya.
  • Selama 3 tahun saya SD di Medan. Selama 3 tahun itu ikut les privat bahasa Inggris sama guru yang mengajar bahasa Inggris di sekolah, namanya Miss Tobing. Tiap Sabtu, saya bersama 2 orang teman, yaitu Karlina dan Jessica (nama yang kedua ini saya tidak begitu yakin benar), dating ke rumah Miss Tobing untuk les bahasa Inggris. Kami diberikan soal-soal, dan pada waktu ujian (ulangan harian) kami bertiga selalu mendapatkan nilai 100. Kenapa? Karena soal ujian itu ternyata sama dengan soal-soal latihan yang sebelumnya diberikan kepada kami. Tentu saja pada masa itu saya masih sangat lugu dan tidak tahu bahwa itu salah, sebelum pada akhirnya seorang teman protes.
  • Dan rasanya saya ingat semua nama teman-teman sekelas saya selama SD di Medan, hanya saja beberapa mungkin mukanya sudah tidak ingat lagi.
  • Pada periode ini, saya ingat sekali, di tahun 1993 adik saya Rio lahir. Waktu itu saya begitu mengharapkan seorang adik perempuan, dan sepupu saya seperti biasa menggoda saya dengan segala kebalikan dari perkataan saya. Ia bertaruh bahwa adik saya kali ini pastilah laki-laki. Dan ternyata, betul kata sepupu saya itu, adik yang lahir kemudian adalah seorang adik laki-laki.

1989-1993 : masuk TK di TK Imanuel Medan. Mungkin di awal-awal term inilah ingatan terjauh saya. Ingatan yang membekas? Saya akan mencoba mengurutkan dari yang terbaru ke ingatan yang paling jauh.

  • Saya sekolah di lokasi yang sangat juah dari rumah saya, sehingga tiap pulang sekolah dari TK hingga SD saya selalu diantar oleh jemputannya Bang Polo ke rumah nenek saya di Jalan Batang Serangan.
  • Sewaktu TK saya sering sekali ngompol di kelas, tapi tentu saja saya tidak pernah buang air di kelas.
  • Saya mempunyai teman TK seorang anak cowok Jepang sangat amat nakal, yang saya lupa namanya. Dan seingat saya anak itu tidak terlalu bisa berbahasa Indonesia, karena saya sering melihat ibunya datang ke TK dan berbahasa Jepang dengannya.
  • Saya punya penyakit paru-paru (yang sudah pasti pada waktu itu saya tidak tahu kalau itu penyakit aru-paru) yang mengharuskan saya memakan obat puyer pahit berwarna merah setiap subuh. Kebayang ga, tiap pagi dibangunin Mama untuk makan obat yang sama sekali tidak enak?
  • Saya sering kali ‘sok tau’ bahwa Mama akan menjemput saya ke sekolah, dan mengatakannya kepada ibu guru TK. Karena itu saya tidak ikut jemputan, dan akibatnya sudah pasti, saya terlantar di sekolahan. Hingga beberapa kali Ibu Shinta, kepala sekolah TK, mengantarkan saya pulang ke rumah nenek saya.
  • Saya pernah mengamuk (menangis keras-keras, menjambak, mencakar, menggigit, dll) kepada supir kantor Mama yang disuruh menjemput saya ke sekolah. Saya tidak tahu apa sebabnya, dan kalau diingat lagi saya kemudian berkata ‘Gila! Liar banget gue ya!’
  • Di rumah nenek, saya sering berebut nonton TV dengan Om saya. Tiap hari Senin, Selasa, Rabu saya selalu berdoa agar Om pulang lama, supaya sore itu saya bisa menonton Ksatria Baja Hitam. Saya sering sekali menangis karena ‘kalah’ dengan Om yang memutar channel berita.
  • Kejadian ini yang menurut saya paling menggelitik perut kalau saya mengingatnya. Sebelum masuk TK Imanuel, Papa ‘sepertinya’ pernah mengajak saya ke beberapa calon sekolah saya. Satu diantaranya adalah sekolah Katolik di Medan, yang saya tidak ingat namanya apa. Kalau tidak salah ingat, sepupu saya sempat menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa sekolah di sekolah Katolik itu seram alias menakutkan. Hingga pada hari dimana saya dibawa bertemu suster di TK Katolik itu, saya pun dengan nyaris menangis mengatakan “Takuuut…” dengan maksud menolak bersekolah di sana. Si Papa pun bingung dan bertanya “Takut kenapa?” Dan hasil dari rengekan itu, saya tidak jadi masuk ke sekolah itu.

***

Lalu apa ingatan yang paling jauh yang bisa saya ingat?

  • Kalau tidak salah, tidak lama setelah kami pindah ke rumah Jalan Binjai, saya mendapatkan seorang adik laki-laki yang waktu itu (dan tentu saja sampai sekarang) sangat saya sayangi. Waktu itu Papa bertugas ke luar kota (kalau tidak salah ke Bogor), dan Papa sering mengirimkan surat untuk saya, mama, dan Kiky adik saya. Mama selalu membacakan surat itu kepada saya. Dan di setiap surat yang dikirim Papa pasti selalu ada permen Vicks yang bentuknya segitiga diselipkan di dalam surat.

Kembali ke waktu dua minggu yang lalu,

“Umur berapa aku saat kita pindah ke Jalan Binjai?” saya bertanya kepada Mama, berharap bahwa jawabannya jauh dari waktu aku pertama kali masuk TK.

“Umur dua setengah tahun,” jawab Mama. Ternyata itu jawabannya. Ingatan terjauh saya berada di masa saya berumur dua setengah tahun. Usia di saat saya baru-baru masuk TK Imanuel. Harapan saya sirna, ternyata saya tidak dapat mengingat kejadian-kejadian sebelum saya berumur dua setengah tahun.

eldest-memory

Saya dan Kiky-saya tidak ingat bagaimana foto ini diambil, tapi waktu ingatan terjauh saya disekitar waktu foto ini diambil

***

Cerita ini adalah sebuah renungan pribadi saya. Mungkin bisa mengajak anda beristirahat sejenak untuk kembali melihat masa lalu di antar waktu-waktu saat ini yang rasanya sangat cepat berputar seperti putaran mixer pengaduk adonan kue.

Seberapa jauhkan ingatan anda? Dan seberapa berartikah itu semua hingga layak untuk diingat?

Dan saya akan menutup tulisan ini kembali dengan sebuah kutipan

“All I can say about life is, Oh God, enjoy it! “ Bob Newhart (1929- )

Cheerio!


About this entry