Cerita Katak

*inspired by Calvin’s notes: Kebahagiaan Katak Dalam Tempurung*

forg

Suatu hari seekor katak keluar dari kubangannya di pinggir sungai. Ia mempunyai sebuah tempurung kecil sebagai rumahnya yang sangat nyaman. Tempurung cokelat tua dengan cipratan lumpur yang menurut katak adalah penghias dan pelengkap rumah kecil tempat ia biasa tidur siang, tidur malam, dan terkadang menerima tamu.

Sang katak seperti biasa keluar di pagi-pagi hari untuk menikmati udara segar dan membasuh tubuh dengan sisa-sisa embun di dedaunan. Ia pun bernyanyi-nyanyi dengan riang. Begini lagunya,

Aku adalah seekor katak
Dari kecebong aku tinggal dalam tempurung
Aku besar, dan mati dalam tempurung
Tapi aku mati bahagia
Karena aku tahu dunia hanyalah sebesar tempurung
Aku adalah seekor katak
Katak dalam tempurung*

Seekor kura-kura pun menyapanya. Hei katak, mengapa kamu selalu bernyanyi seperti itu? Mengapa kamu senang selalu berada di dalam tempurung? Mengapa kamu gembira tidak pernah melihat dunia kecuali tempurung dan pinggiran empang ini? Mengapa kamu tidak menggunakan kakimu untuk melompat lebih jauh lagi?

Katak tetap bernyanyi sebelum ia menjawab kura-kura. Ia menjawab kura-kura dengan nyanyian lagi.

Aku bukan seekor kura-kura
Yang selalu bertanya dan bertanya
Apa bedanya aku dan dia?
Dari lahir ia sudah berada dibawah rumah beratnya

Aku bukan seekor kura-kura
Yang kalau tidak melihat dunia merasa sengsara
Ia senang berjalan lambat,
Aku pun puas tidak perlu tinggi melompat


Aku adalah seekor katak
Aku besar, dan mati dalam tempurung
Tapi aku pasti mati bahagia sebagai katak
Aku tidak sedih karena terkurung

Kura-kura pun meninggalkan katak yang masih terus menari. Kemudian yang datang adalah kancil. Kancil datang sambil berlari, di mulutnya masih ada sebatang lobak yang pasti baru dicuri dari kebun petani.
Marilah ikut denganku, katak. Marilah berlari denganku. Tinggalkan tempurungmu. Kita kelilingi seluruh ladang milik petani. Aku akan mengajarimu bagaimana mencari makanan yang super lezat!
Kancil melemparkan lobak besar kepada katak. Biarlah hasil curian kali ini dinikmati katak, agar temannya itu senang dan besok mereka akan mencuri lobak bersama.

Mari mencuri di ladang
Kata kancil mengundang
Apa dia lupa aku ini seekor katak terpandang?
Jika mencuri siapa yang akan memandang?

Aku bukanlah kancil
Aku tak ingin mencuri
Walau duniaku kecil
Selain tempurung tak ada yang kucari


Aku adalah seekor katak
Aku besar, dan mati dalam tempurung
Tapi aku pasti mati bahagia sebagai katak
Aku tidak sedih karena terkurung

Katak tetap bernyanyi. Ketika hendak kembali ke dalam tempurung buaya di sungai pun menyapanya.
Katak, kau sombong sekali. Bahagia di dalam duniamu yang kecil. Tahukah kau aku sedang lapar? Bantu aku mencari makanan.

Sekarang buaya meminta makan padaku.
Tidak tahu kah dia aku adalah katak dalam tempurung
Makanannya pun aku tidak tahu
Apa yang harus kuberikan?

Aku bukanlah buaya
Aku tidak meminta makan pada si lemah
Aku si katak tetap percaya
Hidupku tak akan susah

Aku adalah seekor katak
Aku besar, dan mati dalam tempurung
Tapi aku pasti mati bahagia sebagai katak
Aku tidak sedih karena terkurung

Buaya tidak pergi meninggalkan Katak. Ia mendeham sebentar lalu mulai bernyanyi dengan suara serak. Siapa yang dapat mencegah buaya melakukannya. Katak terus bernyanyi dan bernyanyi. Sedangkan buaya hanya mengingat satu lagu, lagu tentang Cicak saudaranya.

Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap!
Lalu ditangkap…

Nasib Katak seperti nyamuk yang lewat di sebelah cicak. Hap! Ia ditangkap buaya. Besok, tidak ada lagi katak yang bernyanyi:

Aku adalah seekor katak
Dari kecebong aku tinggal dalam tempurung
Aku besar, dan mati dalam tempurung
Tapi aku mati bahagia
Karena aku tahu dunia hanyalah sebesar tempurung
Aku adalah seekor katak
Katak dalam tempurung*

***
Moral: hidup itu pendek, pasti ada banyak kurangnya. jadi, nikmatin aja hidup ini! Katak aja bisa terus bernyanyi… Masa’ kalah sama Katak…

* prosa ini diciptakan oleh Calvin Michel, dan dikutip atas ijinnya.


About this entry