Aku Anak Daerah

Tumbuh di Jakarta tidak serta merta membuat gue mengakui diri jadi anak Jakarta. Jakarta itu kejam bung! Agak sulit bagi gue untuk berbangga hati dengan dagu terangkat mengatakan gue punya kota yang hebat.

Gue lahir di Medan, tumbuh dan hidup di sana selama delapan tahun. SD-SMA gue sekolah di  Jakarta, delapan tahun lagi. Tapi tetap belum bisa bikin gue mengakui gue anak Jakarta. Ditambah lagi hampir empat tahun gue kuliah dan tinggal di Bandung. Lalu kembali dari Bandung, gue kerja di Jakarta.

Perlu ditekankan, selama gue pindah dari Medan ke Pulau Jawa, gue Cuma beberapa bulan tinggal di Jakarta, di daerah Slipi. Tapi hingga saat ini gue tinggal di rumah ortu di Bintaro, Tangerang, Banten, alias ‘Bukan DKI Jakarta’.

Gue seakan-akan dipaksa untuk menjadi warga Jakarta. Turut menikmati macet dan tergesa-gesanya kota metropolitan,  menghirup polusi karena kurangnya udara bersih di sana, menaruh perhatian kepada undang-undang yang berlaku di kota itu, bahkan  harus menghafal banyak trayek angkutan kota di Jakarta. Tidak lupa, untuk bersenang-senang pun gue masih harus bergantung sama pusat-pusat hiburan dan mall-mall di Jakarta.

Tapi yaah, mau dibilang sudah sangat menjiwai ibu kota juga gue tetap belum mau mengakui diri sebagai anak Jakarta. Bahkan dalam hati gue sekarang bilang ‘tolong kirim aku ke luar Jakarta’.

Beruntung sekali gue sekarang menjadi jurnalis koran nasional di halaman khusus Jabodetabek. Jadi tidak sia-sia juga semua pengalaman sebagai penghuni sementara kota Jakarta.

Mungkin buat yang baca bakal bilang ‘Songong baget lo! Lo kan salah satu penyumbang kesemrawutan Jakarta!’ Tapi dengan bangga gue bilang, gue adalah si pendatang yang tau sopan santun. Selalu mengantri dengan sopan, tidak pernah buang sampah sembarangan, dan setiap hari menggunakan kendaraan umum supaya tidak dibilang turut menyumbang polusi.

Kalau pendatang saja bisa sesopan gue, kenapa warga Jakarta sendiri tidak bisa?? Hayooo…

By the way, meski gak mau disebut anak Jakarta tampaknya gue rela di Jakartaisasi. Buktinya, gue tetap fasih berbahasa ala anak Jakarta dengan ber-‘gue-lo’ dan terkadang berbicara menggunakan lafal ‘e’ di setiap akhiran ‘a’.

Gue anak Jakarta? – Bukan, gue itu anak daerah.

Cheerio!


About this entry